Pendidikan merupakan investasi masa depan yang menjadi pilihan utama bagi setiap bangsa, terutama bagi bangsa yang sedang berkembang. Dalam arti kata pembangunan hanya dapat dilakukan oleh bangsa" />
Database BNSP
Jumlah LSP1
Jumlah Skema1
Jumlah TUK1
Jumlah Asesor1
Pemegang Sertifikat1
Note : Data masih dalam tahap import ke dalam sistem

OPTIMALISASI BELAJAR DENGAN MIND MAPPING

16 Februari 2016 / Admin LSP
Pendidikan merupakan investasi masa depan yang menjadi pilihan utama bagi setiap bangsa, terutama bagi bangsa yang sedang berkembang. Dalam arti kata pembangunan hanya dapat dilakukan oleh bangsa yang telah dipersiapkan untuk membangun negaranya melalui pendidikan. Karena pada hakekatnya pendidikan merupakan cermin peradaban suatu bangsa. Bangsa yang peradabannya tinggi ditandai dengan tingkat pendidikan yang relatif tinggi bagi warga negaranya. Didalam Pendidikan adalah usaha sadar dan sistemastis, yang dilakukan orang-orang yang diberikan tanggung jawab untuk mempengaruhi peserta didik agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan (Achmad Munib, 2004:34). Pendidikan ialah pimpinan yang diberikan dengan sengajaoleh orang dewasa kepada anak-anak, dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat (M. NgalimPurwanto, 2002:10). Dalam arti lain, pendidikan adalah memberikan pendewasaan kepada peserta didik agar dapat mengembangkan bakat, potensi dan keterampilan yang dimiliki dalam menjalani kehidupan, oleh karena itu sudah seharusnya pendidikan didesain guna memberikan pemahaman serta meningkatkanprestasi belajar peserta didik (siswa).
 
Tingkat pendidikan yang tinggi bergantung pada mutu pendidikan yang mana berkaitan erat dengan proses belajar mengajar. Dewasa ini para ahli berusaha untuk meningkatkan proses belajar mengajar itu menjadi suatu ilmu atau teknologi yang dapat dikenal dan dikuasai langkah-langkahnya. Disinilah peran teknologi pendidikan sangat diperlukan. Persoalan optimalisasi yang sering kali menjadi fokus perbincangan para pakar pendidikan di negeri ini, lebih-lebih dengan segala macam metode yang berkembang didalam dunia pendidikan saat ini. Prestasi belajar siswa di sekolah sering diindikasikan dengan permasalahan belajar dari siswa tersebut dalam memahami materi. Indikasi ini dimungkinkan karena faktor belajar siswa yang kurang efektif, bahkan siswa sendiri tidak merasa termotivasi di dalam mengikuti pembelajaran di kelas.Sehingga menyebabkan siswa kurang atau bahkan tidak memahami materi yang bersifat sukar yang di berikan oleh guru tersebut.
 
Kecenderungan pembelajaran yang kurang menarik ini merupakan hal yang wajar di alami oleh guru yang tidak memahami kebutuhan dari siswa tersebut baik dalam karakteristik, maupun dalam pengembangan ilmu. Dalam hal ini peran seorang guru sebagai pengembang ilmu sangat besar untuk memilih dan melaksanakan pembelajaran yang tepat dan efisien bagi peserta didik bukan hanya pembelajaran berbasis konvensional. Pembelajaran yang baik dapat ditunjang dari suasana pembelajaran yang kondusif serta hubungan komunikasi antara guru, siswa dapat berjalan dengan baik.
 
Untuk itu perlu dirasa pengembangan dan pemanfaatan dari ketersediaan, sarana dan prasarana. Dibalik itu semua ada hal rasanya perlu kita kembangkan dalam mengoptimalkan setiap hasil dan ketercapaian hasil akhir dari sebuah proses belajar, sebuah inovasi tentu haruslah menjadi alternative bagi setiap peserta didik bahkan tenaga pendidik sudah seharusnya menjadi lebih menempatkan posisinya sebagai seorang bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan dalam pengajaran. Kita patut belajar serta menerapkan konsep yang diketemukan oleh Tony Buzan, belajar dengan menggunakan Mind Mapping (Peta Pikiran) adalah sebuah jalan keluar untuk siapa saja yang ingin sukses dalam memaksimalkan hasil akhir dari sebuah proses belajar dan mengajar serta profesi lain sekalipun.  
 
Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang tersusun rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang bercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon. Dari fakta tersebut maka disimpulkan apabila kita juga menyimpan informasi seperti cara kerja otak, maka akan semakin baik informasi tersimpan dalam otak dan hasil akhirnya tentu saja proses belajar kita akan semakin mudah.
 
Dari penjelasan diatas, bisa disimpulkan cara kerja Peta Pikiran adalah menuliskan tema utama sebagai titik sentral / tengah dan memikirkan cabang-cabang atau tema-tema turunan yang keluar dari titik tengah tersebut dan mencari hubungan antara tema turunan. Itu berarti setiap kali kita mempelajari sesuatu hal maka fokus kita diarahkan pada apakah tema utamanya, poin-poin penting dari tema yang utama yang sedang kita pelajari, pengembangan dari setiap poin penting tersebut dan mencari hubungan antara setiap poin. Dengan cara ini maka kita bisa mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang telah kita ketahui dan area mana saja yang masih belum dikuasai dengan baik.
 
Dengan demikian karena anak ini mampu dengan usaha yang sedikit untuk memperoleh standard pengetahuan dasar, kurikulum yang diberikan tidak dipenuhi dengan berbagai macam informasi, tapi lebih ditekankan pada proses berpikir secara seorang ahli; yaitu apa yang harus mereka lakukan dengan informasi yang telah mereka dapatkan.  Jadi lebih ditekankan pada bagaimana mengorganisir dan memproses informasi.  Mereka harus mengerti proses alamiah berpikir, mengerti kualitas informasi yang dipunyai dan mengerti bagaimana menggunakan informasi tersebut.
 
Mengorganisir pikiran kedalam bentuk yang komunikatif juga merupakan suatu proses yang berurutan. Gambar adalah suatu kesatuan yang utuh, dan bukan suatu yang berurutan.  Pada visual learner seluruh gagasan sama pentingnya dan seluruh detail pada gambar adalah saling berhubungan, jadi sulit untuk mengekspresikan gagasan-nya.  Selain itu harus juga diperhatikan ejaan, tata bahasa, penggunaan kata, struktur kalimat, pemisahan kata, huruf besar, yang kesemua ini tidak ada hubungannya dengan gambar.  Selain itu juga harus menulis tangan, yang sulit dikerjakan walaupun anak dapat menggambar detail dengan baik, karena gerakan motorik halus yang berurutan untuk menulis tidak dapat dikerjakan secara otomatis dan digunakan sebagai alat untuk belajar dan berekspresi (Silvester 2002).
 
Dengan memahami proses alamiah berpikir, anak akan dibekali dengankemampuan memahami terjadinya daya ingat, proses sensorik, pengorganisasian mental dan pola belajar dan pembekalan tentang pengetahuan organisasi, interpersonal dan strategi pemecahan masalah yang lain.  Pelatihan yang demikian akan membawa anak dapat menghadapi masalah spesifik dan proses belajar secara umum yang akan mendatangkan keberhasilan.
Dengan mengerti proses alamiah dari informasi, anak mempunyai kemampuan untuk mengevaluasi kualitas informasi yang diperoleh. Harus diperkenalkan bagaimana sebenarnya ilmu pengetahuan itu didapat dan memvalidasinya.
 
Dengan memberikan sebuah metode serta bagaimana memahami struktur dan kekuatan argumentasi dan bagaimana pengaruhnya terhadap pengetahuan yang telah kita peroleh, meningkatkan self awareness tentang proses berpikir dan mengemukakan masalah. Proses memperoleh informasi itu sendiri, akan menjadikan mereka pemimpin yang produktif tidak hanya sebagai peninjau, tapi sebagai peserta aktif dalam mencari kemajuan dibidang ilmu pengetahuan.



Bagikan Artikel ini ! Facebook Google LinkedIn Pinterest Twitter